Gunung Marapi Di Buku Diary

Dua tahun lalu aku menuliskan di catatan diary, nama bukunya book my dream. Kutuliskan untuk mendaki ke puncak gunung. Modal nya hanya sebuah kemauan saja. Kuberanikan menulis saja toh mungkin nanti kecapai… itulah awalnya yang menjadi niatku.
Tapi malangnya sampai  sekitar dua tahun kurang dua bulan, aku belum juga mendaki ke puncak gunung.

Saat Mendaki 8 Jam


Dari TK aku sudah hapal nyanyian “naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara”… pastinya mungkin membacanya pakai nada…. Wkwkwk.
Lalu ada hari dimana aku dapat kesempatan untuk mendaki….

Baca Juga : Cerdas Dalam Islam

Ceritanya begini :
Sebelum pendakian temanku yang sudah berpengalaman mendaki belum mempunyai persiapan yang matang, yang siapkan hanya seperti piring, kompor, matras, dan p3k. Dan hal Prioritas seperti tenda, lampu, tempat air, logistik lainnya belum disiapkan. Ini adalah pendakian yang sangat mendadak.
Sedangkan aku tidak menyiapkan apa-apa, kecuali kendaraan yang baru di service. Tanpa diketahui aku hanya membawa persiapan untuk berenang di laut. Seperti celana pendek.

Pagi itu jam 07.00 pagi kami Berangkat, berangkat bersama teman satu Universitas di salah satu Kota di Pekanbaru. Saat di perjalanan yang baru sampai melewati Kota Bangkinang di Perbatasan Pekanbaru dan Sumbar, terlihat pemandangan yang ditumbuhi pepohonan yang indah, warna hijau yang asri. “bagus sekali pemandangan di sini, udaranya pun segar tanpa polusi asap kendaraan” ungkap salah satu teman kami. Kami kira sudah sampai tujuan, ternyata baru sampai perbatasan Pekanbaru. Begitulah indahnya di pinggiran alam.

Saat sudah Sampai di lokasi Pendaftaran Pendakian, hal yang aneh mulai terjadi. Orang-orang dilarang untuk mendaki karena ada tanda-tanda akan Erupsi di Puncak. Hal itu disampaikan kepada rombongan Jambi, lalu aku pun sedikit tersenyum Sebab di dalam tas aku hanya membawa perlengkapan berenang, seperti celana pendek renang, underwater untuk foto di air, handuk, dan tanpa ada perlengkapan pendakian. Mungkin kalau dicancel mendaki, maka berenang sudah pasti. Ungkapku demikian.

Saat duduk di masjid setelah solat terlihat seorang pria paruh baya mendatangi kami, menanyakan apakah kalian mau mendaki? Seorang yang baru dikenal bagaikan seorang malaikat , lalu orang tersebut berkata “kalau mau kita bareng-bareng mencari perlengkapan seperti Tenda, lampu, makanan, dan logistik lainnya”…
Sesaat itu pun kami bersama abang-abang itu lengkapi peralatan dan logistik ke pasar terdekat.

Saat Mulai Mendaki
Dengan uang parkir hanya Rp.15.000 dan uang tiket hanya Rp.45.000 kami sudah bisa melakukan pendakian. Kami bersama abang-abang yang dijumpai tadi mulai berjalan menelusuri jalan menanjak pegunungan. Saat mengekpolrasi alam ditemui hewan-hewan seperti kera di pohon, ular yang kecil, dan anjing jinak. Kami temui juga tanaman masyarakat setempat seperti sayur-sayur wortel, sawi, apel dan lain-lain.

Di perjalanan pendakian Aku dikhawatirkan oleh rekan salah satu timku karena baru perdana ikut pendakian. Saat diperjalanan yang sudah melewati 50 menit, kaki rekanku mulai keram. Kaki nya mulai berat untuk melangkah dan raut wajah yang agak kelelahan.
Selang perjalanan 3 jam, rekanku jatuh ke tanah . Maka sejenak kami istirahat di pinggir akses jalan para pendaki. Jalannya mulai licin karena turun hujan gerimis yang membuat jalan menjadi ektrim.
Setelah beristirahat kami lanjutkan pendakian kembali walaupun di jalan yang licin, rekanku menanyakan mengapa aku tidak capek dan letih. Memang sesaat sebelum berangkat aku sudah jogging melatih kaki, dan doa supaya diperlancar perjalanan.

Baca Juga : Kost Putri Pekanbaru

Rekan ku jatuh kembali, lalu kami pun beristirahat… setelah beristirahat kami lanjutkan perjalanan naik. Rekan ku pun jatuh lagi berkali-kali sampai terguling guling…. Aku pun sampai iba melihatnya. Dan kami istirahat untuk menetralkan kondisi yang sangat mengerikan ini.
Rekan ku sampai berpesan kalau terjadi apa-apa dia akan memberikan PIN ATM nya, itulah opsi yang hampir dilakukannya. Pikiran sudah jauh mengarah ke depan, padahal katanya isi tabungannya pun tdk banyak kepada ku, hahaha.. sempat-sempatnya dia membuat lelucon di saat insiden itu…
Saat itu aku mengkhawatirkan rekanku yang sudah kelelahan dan letih. Maka kami putuskan untuk istirahat dan melanjutkan esok hari.

DI Cadas dan Puncak
Kami pun istirahat dengan mendirikan tenda. Tenda yang kami rangkai berdiri di atas tanah yang miring dan sama sekali tidak datar. Tenda kami berdiri di atas tanah yang curam!.
Sleeping bad aku pun tidak disiapkan, hanya bermodal kain. Ternyata dingin di pegunungan sangat berbeda saat di dataran. Sangat dingin menyentuh tulang. Sampai aku tidak bisa tidur.
Mulai aku hidupkan api dan membakar sedikit di tanganku, itulah cara klasik yang pernah di lihat di game perang-perangan.

Di Puncak
Sekitar jam 08.00 pagi kami lanjutkan perjalanan ke Puncak. Saat kami sudah dipuncak aku menemui tenda yang di kelilingi batu, batu yang disusun melingkari tenda adalah protek agar angin badai tidak langsung berhadapan dengan tenda. Tenda bisa dibangun dipuncak dengan syarat menggunakan hal yang serumit itu.
Angin di puncak sangatlah kuat,

Saat di puncak tertinggi adalah momen yang sangat aku syukuri sekali. Dulu aku pernah menulis di diary dream bahwa akan mendaki. Sampai dua tahun lamanya barulah tergapai. Ternyata Tuhan tidak menolak, Tuhan hanya menunda sampai kita benar-benar layak untuk dikabulkan.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar, aku pun hampir menyerah untuk punya keinginan mendaki lagi, namun disaat sudah hampir menyerah, aku ditakdirkan punya kesempatan yang good time untuk melangkah kembali.

Dari atas puncak, aku pun melihat betapa luar biasanya ciptaan sang Pencipta Allah swt yang telah menciptakan alam seindah ini. Rasa Gembira, haru, takjub, bangga menjadi satu dalam lantunan sebuah firman

“(Dan carilah negeri akhirat dengan apa yang dinaugrahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia)”




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel