Berangkat Ke Marapi

Lihatlah Bumi dari Atas Agar Sombongmu Menjadi Kecil

Perjalanan ke Marapi di mulai pukul 07.00 wib dari panam, Pekanbaru. Selama perjalanan panorama pepohonan yang hijau terlihat sangat indah. Ditambah bukit-bukit di samping kami begitu menyerupai zamrud katulistiwa yang berukuran mikro. Tak sabar melihat dari atas keindahan alam yang besar ini. Maka Semakin kami gas kendaraan kami dengan kencang agar cepat sampai.

Saat hampir sampai kami berhenti istirahat sejenak untuk makan siang di Rumah Makan, makan siang kami dengan lauk ikan ayam bumbu dan kerupuk super gede sebesar piring. Tiba-tiba suara gemuruh geluduk tanda akan hujan, gerimis membasahi jalan aspal yang membuat aroma menjadi lebih dramatis. Si garet bapak-bapak di samping kami dibakar untuk mencairkan suasana yang ada, ternyata bapat tsb adalah pemilik rumah makan nya.

Setelah makan kami berdiskusi,

Berangkat Ke Marapi
Langsung Mendaki

“Bagaimana ini ya” padahal tinggal sedikit lagi sampai ke pos pendaftaran. Kita Tunggu saja agak reda sambil membaca solawat nabi, sahut rekanku agar dipermudah dalam perjalanan.

Saat gerimis sudah agaknya reda, kami melanjutkan perjalanan dan singkat cerita sampailah kami ke tempat tujuan awal. Yakni kami ke masjid untuk solat ashar. Sebenarnya di dalam ransel kami hanya berisi handuk, celana renang, dan underwater untuk foto di bawah air, kami hanya membawa perlengkapan untuk dilaut, bukan untuk mendaki. :D

Keajaiban pun terjadi, terdapat abang-abang muda yang juga ingin hendak mendaki bersama kami. Bersamanya kami menyewa tenda, lampu LED, dan jerigen untuk minum. Tanpa perlu beristirahat kami melanjutkan perjalanan langsung saat itu juga, sore itu juga.

Sebelumnya kami lelah karena tujuh jam perjalanan di kendaraan, saking lelahnya wajah rekan kami seperti orang gila yang rambutnya berantakan, mata merah, kurus kering, dan layaknya seperti anak jalanan yang kurang beres. Itulah gambaran yang terjadi walaupun sedikit tertawa di kaca sepion bahwa yang disangkakan abang-abang itu ada benarnya.

Lanjut kembali storynya, saat mendaki kami sedikit curiga bahwa abang-abang sebaya kami sangat baik dan ramah, karena diberinya kami minum, diberinya kami makan nasi bungkus, diberi rokok, padahal baru kenal. Ia pun sebenarnya juga curiga kepada kami karena wajah kami sepertiga orang gila, gelandangan, pemakai, dan seperti anak jalanan. Sama-sama curiga.

Di pendakian yang baru berjalan 30 menit, salah satu rekan kami tampak kelelahan. Badannya yang gembul dan bulat menjadi beban tersendiri baginya. Apalagi ia belum ada pemanasan sebelum action pendakian. Ia mulai mengeluh dan berucap “tunggu aku, dan biar aku saja di tengah dan kalian di belakang” perintahnya agar tidak ketinggalan rombongan.

Sebelum lanjut ke story nya, ternyata legenda mak lampir bukan hanya di jawa saja, Legenda mak lampir adalah berasal dari Gunung Marapi, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Mak lampir juga berkaitan erat dengan Legenda 7 Manusia Harimau. Mak lampir merupakan seorang puteri dari Kerajaan Champa, Vietnam pada abad ke 7 yang awalnya sangat cantik jelita, ia jatuh cinta kepada seorang pemuda bernama Datuk Panglima Kumbang.

Namun, cintanya tidak mendapat restu dari kedua orangtua Datuk Panglima Kumbang. Sang puteri pun sakit hati, ia memutuskan untuk bertapa di Gunung Marapi. Puteri itupun bertemu dengan seorang guru yang sakti yang memberikannya kekuatan yang sangat hebat, sampai sang puteri itupun digelari mak lampir karena sangat sakti.

Suatu hari, mak lampir bertemu dengan pujaan hatinya yakni Datuk Panglima Kumbang, akan tetapi dijumpai dalam keadaan tewas di medan pertempuran. Mak lampir pun menghidupkan kembali pemuda yang dicintainya, walaupun dengan konsekuensi yang berakibat wajah mak lampir menjadi buruk rupa. Dengan harapan Datuk Panglima Kumbang menerima apa adanya dan mencintainya, namun justru sebaliknya.

Datuk panglima kumbang tidak menerimanya, bahkan tidak menganggap pengorbanan sang puteri. Selanjutnya setelah ratusan tahun mak lampir pindah ke Jawa untuk menyempurnakan ilmunya di gunung Merapi. Ini hanya cerita yang belum di dapat dipastikan.

Berangkat Ke Marapi
Kelelahan dan Malam Hampir Tiba

Kami selipkan kisah ini karena ada kaitannya dengan perjalanan kami saat mendaki, sebab kami tetap melanjutkan perjalanan setelah magrib, kami berjalan menelusuri tanah yang licin dan gelap yang dibantu dengan senter LED di kepala kami. Hujan serta gerimis menghiasi perjalanan kami, rasa mistis apakah ada?

Di Perjalanan Malam akan ada insiden dan hal-hal mengejutkan.

Kami lanjutkan Cerita selanjutnya di Judul Perjalanan Malam Marapi, karena jika di sampaikan disini akan terlalu panjang untuk dibaca. Oke Semoga bermanfaat Sekian..

Belum ada Komentar untuk "Berangkat Ke Marapi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel